Langsung ke konten utama

Tolerance in Campus

Toleransi, berasal dari kata toleran yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Bersikap toleran berarti membiarkan hingga menghargai perbedaan sudut pandang dan perilaku dari orang atau kelompok sosial lain.

Dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, sikap toleran dan toleransi telah diajarkan kepada kita sejak menginjak jenjang sekolah dasar, sebagai perilaku warga negara dengan keragaman seperti Indonesia. Disamping mendapatkan pelajaran tentang toleransi dari ruang kelas, sangatlah penting menumbuhkan kepekaan terhadap perbedaan disekitar melalui interaksi secara langsung dilingkungan sosial.

Salah satu bentuk lingkungan yang tepat untuk menumbuhkan kepekaan sosial akan keragaman adalah di kampus. Kampus menjadi miniatur kecil sebuah negara dalam hal ini mahasiswa dan mahasiswi yang ada memiliki berbagai macam latar belakang kebudayaan. Sehingga menjadi sangat penting bagi seseorang yang memasuki dunia perkuliahan untuk memiliki rasa hormat dan toleransi terhadap keragaman yang ada di lingkungan kampus.
Salah satu bentuk toleransi yang paling sederhana adalah menghargai Pendapat Orang. Perbedaan pendapat dalam dunia akademis adalah hal lumrah sehingga menghargai perbedaan sudut pandang seseorang adalah hal yang wajib dimiliki seoarang mahasiswa di dunia perkuliahan, dalam hal ini di lingkungan kampus. Perbedaan latar belakang, asal, dan pendidikan yang didapatkan mempengaruhi cara berfikir seseorang, sehingga sangat tidak adil bila kita menyamaratakan sesuatu sesuai dengan sudut pandang yang kita bentuk sesndiri.

Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi mahasiswa terbesar di dunia, data BPS 2015 menunjukkan jumlah mahasiswa di Indonesia yaitu ± 8,5 juta (https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1840) hal ini menunjukkan jumlah usia produktif yang mengenyam pendidikan tinggi cukup banyak di Indonesia. Sehingga hal ini patutnya kita telaah bersama mengapa kini justru banyak merebak kasus-kasus intoleransi yang berujung pada anarkisme diberbagai daerah padahal angka penduduk terddidik sangat tinggi di Indonesia.

Para sarjana dan orang-orang terpelajar lah yang seharusnya memiliki andil besar terhadap hal ini, karena mereka yang dididik untuk bisa bekerja sama dan bersaing secara sehat di masyarakat. Dunia kampus harusnya menjadi inkubasi bagi para orang terdidik ini untuk bisa mempersiapkan diri sebelum terjun ke masyarakat. Maka dari itu, dunia kampus seharusnya membentuk dan menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan menumbuhkan kepekaan sosial diluar kegiatan akademis. Seorang mahasiswa pun selalu dididik dengan mengedapankan sikap objektif, menghormati pendapat orang, dan memprioritaskan nalar berfikir yang ilmiah, dunia kampus sangatlah tepat untuk membentuk orang-orang terdidik itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Experience about Online Shopping

Belanja kini semakin mudah sejak adanya "Online Shopping". Kalo dulu harus ribet datangin toko satu persatu untuk nyari barang tertentu, sekarang nggak lagi. Cukup datengin toko online via web atau yang booming sekarang via Instagram aja. Karena kultur baru ini, ada juga celetukan baru yang tercipta. Kayak gini nih: Cek IG kita ya sist | FIX order ya sist | No Hit n Run | No Cancel | Harga belom termasuk ongkir sist | Maksimal transfer 24 jam yaa | .etc. But, shortest horror story ever is : "SOLD OUT".  Nah bagi kalian yang sering belanja online pasti nggak asing lagi sama celetukan-celetukan tadi. And kali ini, saya akan bercerita sedikit rada banyak soal pengalaman saya Belanja Online. Pertama kali mengenal "Online Shop" lalu mencoba berbelanja online adalah saat mencoba menjadi reseller beberapa online shop yang menjual pakaian. Dari beberapa online shop tersebut memiliki perbedaan tipis soal servicenya. Pertama kali mencoba memesan barang dari Tok...

Smoking? No!!!

Is Smoking Good for Us? Before we are going to smoke , it is better to look at the fact. About 50 thousands people die every year in Britain as direct result of smoking. This is seven times as many as die in road accidents. Nearly a quarter of smokers die because of diseases caused by smoking. Ninety percent of lung cancers are caused by smoking. If we smoke five cigarettes a day, we are six times more likely to die of lung cancer than a non smoker. If we smoke twenty cigarettes a day, the risk is nineteen greater. Ninety five percent of people who suffer of bronchitis are people who are smoking. Smokers are two and half times more likely to die of heart disease than non smokers. Additionally, children of smoker are more likely to develop bronchitis and pneumonia. In one hour in smoky room, non smoker breathes as much as substance causing cancer as if he had smoked fifteen cigarettes. Smoking is really good for tobacco companies because they do make much...

67th #17Agustus2012#

libur bertepatan dengan ; 67th Republic Indonesia Merdeka! 17 Agustus, sudah tidak asing lagi di telinga warga negara Indonesia. Karena pada tanggal ini, tepat dimana Negara Kesatuan Republik Indonesia, bebas dari para Penjajah. yg tidak lain dapat di katakan Indonesia Merdeka. Yaa, saya sih cukup simple dalam memperingati Hari Kemerdekaan ini. yg biasanya saya peringati dengan mengikuti Upacara, kali ini saya cukup Menonton siaran live Upacara di Istana Merdeka. Sebab tudak mungkin saya ikut upacara di situ *siapa saya? pejabat bukan.* hehehe. Walaupun ngga terjun langsung di Upacara, setidaknya lewat siaran live di tv juga saya sudah bisa merasakan bagaimana perjuangan para pahlawan terdahulu, yg secara susah payah menaikan Sangsaka Merah Putih. Apalagi di saat bendera di kibarkan, dengan iringan lagu Indonesia Raya sungguh terasa Hikmatnya :) Ini tahun kedua yg saya rasakan, 17 Agustus ada di bulan Ramadhan :) tapi ini juga tahun kedua saya untuk ngga ikut Upacara dan perlo...